Tradisi Saweran Cilegon, Simbol Syukur dan Kepedulian Sosial

Thursday, April 2, 2026

 Cilegon adalah sebuah kota di Provinsi Banten, yang berdiri pada tanggal 27 April 1999.  Secara administratif wilayah  ini terbagi atas 8 kecamatan dan 43 kelurahan. Kota

industri ini terkenal dengan motto "Akur Sedulur Jujur Adil Makmur."

Cilegon memiliki keberagaman tradisi dan budaya tradisional. Salah satunya adalah Saweran.  Tradisi saweran khususnya di Ciwandan ini, merupakan warisan leluhur yang hingga sekarang masih dilestarikan.  Menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial masyarakat.



Bagi warga setempat, saweran bukan sekadar hura-hura, melainkan simbol rasa syukur, sekaligus sarana menanamkan nilai kepedulian sosial sejak dini. Selain sebagai wujud syukur, tradisi ini juga melambangkan kemakmuran, doa, dan berbagi kebahagiaan dengan warga sekitar. Serta sering diiringi nilai-nilai religius dan gotong royong. 

 

Jenis dan Makna

 

Ada beberapa jenis  Saweran. Yakni Sawer Tabur, Sawer Kong dan Saweran Kelahiran.  Sawer Tabur berupa beras kuning, uang logam, dan permen yang disebar oleh tuan rumah untuk diperebutkan (terutama anak-anak). Beras kuning simbol kemakmuran, berharap pasangan pengantin atau bayi yang disawer hidup sejahtera dan tidak kekurangan pangan.

Pada Sawer Kong, tuan rumah menyediakan baskom (kong) besar untuk menampung uang saweran dari keluarga dekat. Ini merupakan bentuk dukungan gotong royong dan doa restu bagi pasangan pengantin. Sementara Saweran Kelahiran, dilakukan sebagai bentuk syukur atas kelahiran anak, dengan harapan bayi tumbuh sehat dan panjang umur.

Saweran lebih dari sekadar pesta. Tradisi ini memupuk kepedulian sosial, mempererat silaturahmi, dan menjadi sarana sedekah. Tidak heran jika tradisi ini tetap bertahan di tengah perkembangan modernisasi di Kota Cilegon. Tradisi ini menunjukkan bahwa meskipun Cilegon merupakan kota industri, masyarakatnya tetap menjaga nilai-nilai budaya dan kearifan lokal.(m)