Tradisi Saweran Cilegon, Simbol Syukur dan Kepedulian Sosial
Cilegon adalah sebuah kota di Provinsi Banten, yang berdiri pada tanggal 27 April 1999. Secara administratif wilayah ini terbagi atas 8 kecamatan dan 43 kelurahan. Kota
industri ini terkenal dengan motto
"Akur Sedulur Jujur Adil Makmur."
Cilegon memiliki
keberagaman tradisi dan budaya tradisional. Salah satunya adalah Saweran. Tradisi saweran khususnya di Ciwandan ini,
merupakan warisan leluhur yang hingga sekarang masih dilestarikan. Menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan
sosial masyarakat.
Bagi warga
setempat, saweran bukan sekadar hura-hura, melainkan simbol rasa syukur, sekaligus
sarana menanamkan nilai kepedulian sosial sejak dini. Selain sebagai wujud
syukur, tradisi ini juga melambangkan kemakmuran, doa, dan berbagi kebahagiaan
dengan warga sekitar. Serta sering diiringi nilai-nilai religius dan gotong
royong.
Jenis
dan Makna
Ada
beberapa jenis Saweran. Yakni Sawer
Tabur, Sawer
Kong dan Saweran Kelahiran. Sawer
Tabur berupa beras kuning, uang logam, dan permen yang disebar
oleh tuan rumah untuk diperebutkan (terutama anak-anak). Beras kuning simbol kemakmuran,
berharap pasangan pengantin atau bayi yang disawer hidup sejahtera dan tidak
kekurangan pangan.
Pada Sawer
Kong, tuan rumah menyediakan baskom (kong) besar untuk
menampung uang saweran dari keluarga dekat. Ini merupakan bentuk dukungan
gotong royong dan doa restu bagi pasangan pengantin. Sementara Saweran
Kelahiran, dilakukan sebagai bentuk syukur atas kelahiran anak,
dengan harapan bayi tumbuh sehat dan panjang umur.
