SALAM REDAKSI
Setelah
menunaikan ibadah puasa Ramadhan sebulan penuh, tibalah umat muslim merayakan
kemenangan di hari Idul Fitri/Lebaran. Istilah Lebaran pertama kali
diperkenalkan oleh Sunan Bonang.
Ketika
berakhirnya bulan Ramadhan, Sunan Bonang berkata kepada para santrinya, “Hai
santri-santriku kita sudah berpuasa, In sya Allah dosa-dosa kita sekarang sudah
lebur (habis), hari ini puasa kita sudah lebar (selesai),
pahalanya luber (penuh), wajahnya labur (cerah).”Tanpa
mendapatkan Laku Sing Papat (lebur-lebar-luber-labur) tersebut, seseorang telah
gagal menjalankan ibadah puasanya.
Idul Fitri
menjadi momen penting agar kita tidak menjadi orang yang Muflis (bangkrut).Orang
yang bangkrut adalah seseorang yang ibadahnya baik, namun berat ketika harus
meminta maaf kepada orang lain.
Idul Fitri
adalah momentum untuk memulai kehidupan yang lebih baik.Perubahan positif
tersebut bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Seperti menjaga shalat tepat
waktu, memperbanyak sedekah, serta menjaga sikap dan perilaku dalam kehidupan
sehari-hari. Dengan demikian, nilai-nilai Ramadhan tidak hanya dirasakan selama
satu bulan, tetapi juga dapat terus berlanjut sepanjang tahun.
Kehidupan
kaum muslim setelah Ramadhan adalah mempertahankan nilai-nilai kebaikan yang
sudah dibangun selama bulan Ramadhan. Jika seseorang mampu menjaga amalannya,
maka itulah tanda bahwa ibadah Ramadhan memberikan dampak yang positif dalam
hidupnya.
Idul Fitri
menjadi momen penting untuk mempererat tali silaturahmi, saling memaafkan dan
memperbaiki hubungan yang mungkin sempat renggang. Tradisi saling memaafkan
menjadi simbol bahwa Idul Fitri bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga
tentang memperbaiki hubungan antar sesama manusia.
Sesungguhnya
membiasakan diri untuk meminta maaf kepada sesama, tidak hanya saat Idul Fitri,
namun kapanpun, dimanapun dan kepada siapapun.
