SALAM REDAKSI

Friday, April 3, 2026

 


Setelah menunaikan ibadah puasa Ramadhan sebulan penuh, tibalah umat muslim merayakan kemenangan di hari Idul Fitri/Lebaran. Istilah Lebaran pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Bonang.

Ketika berakhirnya bulan Ramadhan, Sunan Bonang berkata kepada para santrinya, “Hai santri-santriku kita sudah berpuasa, In sya Allah dosa-dosa kita sekarang sudah lebur (habis), hari ini puasa kita sudah lebar (selesai), pahalanya luber (penuh), wajahnya labur (cerah).”Tanpa mendapatkan Laku Sing Papat (lebur-lebar-luber-labur) tersebut, seseorang telah gagal menjalankan ibadah puasanya.  

Idul Fitri menjadi momen penting agar kita tidak menjadi orang yang Muflis (bangkrut).Orang yang bangkrut adalah seseorang yang ibadahnya baik, namun berat ketika harus meminta maaf kepada orang lain.  

Idul Fitri adalah momentum untuk memulai kehidupan yang lebih baik.Perubahan positif tersebut bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Seperti menjaga shalat tepat waktu, memperbanyak sedekah, serta menjaga sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, nilai-nilai Ramadhan tidak hanya dirasakan selama satu bulan, tetapi juga dapat terus berlanjut sepanjang tahun.

Kehidupan kaum muslim setelah Ramadhan adalah mempertahankan nilai-nilai kebaikan yang sudah dibangun selama bulan Ramadhan. Jika seseorang mampu menjaga amalannya, maka itulah tanda bahwa ibadah Ramadhan memberikan dampak yang positif dalam hidupnya.

Idul Fitri menjadi momen penting untuk mempererat tali silaturahmi, saling memaafkan dan memperbaiki hubungan yang mungkin sempat renggang. Tradisi saling memaafkan menjadi simbol bahwa Idul Fitri bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga tentang memperbaiki hubungan antar sesama manusia.

Sesungguhnya membiasakan diri untuk meminta maaf kepada sesama, tidak hanya saat Idul Fitri, namun kapanpun, dimanapun dan kepada siapapun.