Kupat dan Lepet
Ketupat dan
Lepet, dua menu makanan yang tidak bisa dipisahkan saat Idul Fitri. Konon, dua
sajian makanan ini diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga, sebagai simbol perayaan
budaya dan keagamaan.
Ketupat, dalam Bahasa Jawa disebut sebagai Kupat. Sementara Lepet
di Sultra biasa dikenal sebagai Lapa-Lapa.
Ketupat
merupakan kependekan dari “ngaku lepat (Jawa)” yang artinya mengakui kesalahan.
Tindakan ngaku lepat biasanya ditandai dengan tradisi sungkeman yang dilakukan
oleh orang Jawa. Sungkeman mengajarkan pentingnya menghormati orang tua atau
orang yang lebih tua dari kita dengan bersikap rendah hati, memohon keikhlasan
dan ampunan.
Kupat biasa dibungkus dengan janur. Dalam bahasa Arab, Ja’an-nur, berarti telah datang cahaya. Beras
yang dibungkus janur kuning berbentuk prisma segiempat. Bentuk prisma segiempat
ini melambangkan bentuk hati manusia. Dengan isian beras, yang apabila telah
dimasak dan dibelah, akan terlihat warna putih. Diharapkan usai lebaran, hati kembali putih atau suci kembali.
Sedangkan
anyaman ketupat dianggap sebagai bentuk kesalahan-kesalahan yang diperbuat
manusia. Namun, ada juga yang mengartikan sebagai lambang kesatuan dan
persaudaraan.Kemudian untuk beras, sering diartikan sebagai simbol kemakmuran.
Beras di ketupat juga sebagai doa agar masyarakat diberi kelimpahan setelah Hari
Raya.
Laku Papat
Kupat juga
berasal dari “Laku Papat”, artinya 4 tindakan. Keempat tindakan tersebut adalah
“Lebaran”: Lebar, sudah, usai, atau selesai. Menandakan berakhirnya
waktu puasa. “Luberan”: melebar atau melimpah. Maksudnya adalah ajakan
bersedekah yang ditujukan kepada fakir dan miskin yang ditandai dengan
mengeluarkan zakat fitrah. “Leburan”: Lebur atau sudah habis. Maksudnya
adalah dosa dan kesalahan akan melebur habis setelah hari raya. Hal ini
dikarenakan umat Islam diajarkan untuk saling memaafkan satu sama lain. “Laburan”:
berasal dari kata “labur atau kapur” yang biasa digunakan untuk menjernihkan
air maupun pemutih dinding. Maksudnya adalah supaya manusia selalu menjaga
kesucian baik lahir maupun batin.
Sementara Lepet
adalah makanan yang terbuat dari beras ketan, santan, kelapa parut, dan garam.
Kemudian dibungkus janur dengan bentuk memanjang
(silinder).Lepet adalah kependekan dari kata “silep kang rapet” atau menutup
dengan rapat. Setelah ngaku lepat, lalu meminta maaf dan menutup kesalahan yang
sudah dimaafkan. Artinya, jangan sampai diulangi lagi kesalahan yang sama. Supaya
persaudaraan semakin erat seperti lengketnya ketan dalam lepet. (d)
