Kisah Suku Tengger Gunung Bromo
Gunung Bromo terletak di wilayah Jawa Timur. Tepatnya di perbatasan Kabupaten Malang, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang, dan Kabupaten Probolinggo. Gunung Bromo terletak di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), dan termasuk sebagai wilayah konservasi alam.
Gunung Bromo telah ada sebelum kerajaan
Majapahit berdiri. Kerajaan penganut agama Hindu ini pernah mengalami serangan.
Sehingga menyebabkan rakyatnya harus
berpindah ke wilayah Gunung Bromo dan Pulau Bali. Oleh karena itu, mayoritas masyarakat suku Tengger
beragama Hindu.
Gunung Bromo dikenal sebagai tempat pertapaan
para dewa, seperti Dewa Brahma, Dewa Siwa, dan Dewa Wisnu. Gunung ini tidak terlepas
dari legenda Suku Tengger, yaitu suku yang mendiami kawasan ini.Wong Tengger, sebutan bagi masyarakat Suku Tengger, percaya
bahwa sejarah Gunung Bromo berkaitan dengan kelahiran 2 bayi di wilayah Pegunungan
Tengger. Yaitu Joko Seger
dan Roro Anteng.
Saat itu, di area pertapaan seorang Brahmana,
lahirlah seorang bayi laki-laki yang tangisannya sangat keras. Pria berfisik
kuat ini dinamakan Joko Seger. Sementara di area Gunung Pananjakan, lahirlah
bayi perempuan dengan paras cantik. Ia dikenal sebagai titisan dewi.
Kelahirannya berbeda dari bayi pada
umumnya, tanpa tangisan dan begitu tenang. Ia diberi nama Roro Anteng. Nama suku "Tengger" diambil dari suku kata
terakhir nama mereka: Roro Anteng dan Joko Seger.
Setelah mereka menginjak dewasa, banyak orang
melamar Roro Anteng, tetapi ditolaknya karena ia telah terpikat oleh Joko
Seger.
Kedatangan Kyai Bimo
Suatu saat, Roro Anteng dilamar oleh Kyai Bimo, seorang yang sakti dan terkenal akan kejahatannya. Oleh
karena kelembutan hatinya, Roro Anteng tidak tega untuk menolak begitu saja. Sehingga ia membuat rencana untuk menggagalkan
lamaran sang kyai.
Roro Anteng meminta Kyai Bimo untuk membuat
lautan selama sehari semalam. Kiai Bimo segera membuat lautan dari batok
kelapa. Hanya berbekalkan alat pemukul saja, lautan itu hampir jadi. Roro
Anteng yang khawatir jika Kyai Bimo berhasil membuat lautan tersebut, merencanakan hal lain.
Di malam hari, Roro Anteng menumbuk padi yang
membuat ayam-ayam berkokok. Mendengar kokokan ayam, Kyai Bimo akhirnya merasa
marah dan kesal akan kegagalannya. Akibat emosinya itu, tempurung yang
digunakan untuk mengeruk pasir dilemparkan dan jadilah sebuah gunung bernama
Gunung Batok. Kemudian di sekitar wilayah
tersebut terbentuklah lautan pasir.
Akhirnya Roro Anteng melangsungkan pernikahan dengan pujaan
hatinya, Joko Seger.
Upacara Kasada
Beberapa tahun setelah menikah, Joko Seger dan
Roro Anteng tidak kunjung memiliki anak. Akhirnya mereka memutuskan bertapa di
sebuah gunung. Pada suatu saat, mereka mendengar sebuah bisikan yang
menyebutkan bahwa setelah mereka dikaruniai anak, anak tersebut harus
dikorbankan pada kawah Gunung Bromo. Mereka pun menyanggupinya.
Namun setelah memiliki 25 anak, mereka ingkar
pada janjinya. Ingkar
janji tersebut memicu kemarahan dewa. Kawah Bromo meletus. Merekapun sadar dan menuruti titah tersebut. Anak bungsu mereka, Jaka Kesuma, akhirnya ikhlas menceburkan
diri ke kawah Bromo demi keselamatan keluarganya.
Ia diantar ke kawah Gunung Bromo oleh banyak
orang. Sebelum menceburkan diri, Jaka Kesuma berpesan agar masyarakat
melarungkan hasil panen di setiap tanggal 14 di bulan Kasada, sesuai kalender Tengger.
Setelah itu, setiap tahun masyarakat Tengger melaksanakan
Upacara Kasada dengan membawa sesaji berupa hasil panen untuk dilarungkan tepat
pada tengah malam tanggal 14 bulan Kasada. Selain melarungkan sesaji,
masyarakat Tengger juga menyiapkan sesaji di 25 petilasan anak-anak Joko Seger
dan Roro Anteng yang tersebar di area Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.
Wong Tengger percaya bahwa kesejahteraan dan karakter
mereka merupakan turunan dari leluhurnya, yaitu Joko Seger dan Roro Anteng. Legenda ini diwariskan secara turun-temurun, sebagai bagian
penting dari budaya dan kepercayaan masyarakat Tengger di sekitar Gunung
Bromo. (n/dari berbagai
sumber)
(dok:archipelagoindonesia)
