Kisah Suku Tengger Gunung Bromo

Thursday, April 2, 2026

             Gunung Bromo terletak di wilayah Jawa Timur.  Tepatnya di perbatasan Kabupaten Malang, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang, dan Kabupaten Probolinggo. Gunung Bromo terletak di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), dan  termasuk sebagai wilayah konservasi alam.

Gunung Bromo telah ada sebelum kerajaan Majapahit berdiri. Kerajaan penganut agama Hindu ini pernah mengalami serangan. Sehingga  menyebabkan rakyatnya harus berpindah ke wilayah Gunung Bromo dan Pulau Bali. Oleh karena  itu, mayoritas masyarakat suku Tengger beragama Hindu.

Gunung Bromo dikenal sebagai tempat pertapaan para dewa, seperti Dewa Brahma, Dewa Siwa, dan Dewa Wisnu. Gunung ini tidak terlepas dari legenda Suku Tengger, yaitu suku yang mendiami kawasan ini.Wong Tengger, sebutan bagi masyarakat Suku Tengger, percaya bahwa sejarah Gunung Bromo berkaitan dengan kelahiran 2 bayi di wilayah Pegunungan Tengger. Yaitu Joko Seger dan Roro Anteng.

Saat itu, di area pertapaan seorang Brahmana, lahirlah seorang bayi laki-laki yang tangisannya sangat keras. Pria berfisik kuat ini dinamakan Joko Seger. Sementara di area Gunung Pananjakan, lahirlah bayi perempuan dengan paras cantik. Ia dikenal sebagai titisan dewi. Kelahirannya  berbeda dari bayi pada umumnya, tanpa tangisan dan begitu tenang. Ia diberi nama Roro Anteng. Nama suku "Tengger" diambil dari suku kata terakhir nama mereka: Roro Anteng dan Joko Seger.

Setelah mereka menginjak dewasa, banyak orang melamar Roro Anteng, tetapi ditolaknya karena ia telah terpikat oleh Joko Seger.

 

Kedatangan Kyai Bimo

 

Suatu saat,  Roro Anteng dilamar oleh Kyai Bimo, seorang  yang sakti dan terkenal akan kejahatannya. Oleh karena kelembutan hatinya, Roro Anteng tidak tega untuk menolak begitu saja.  Sehingga ia membuat rencana untuk menggagalkan lamaran sang kyai.

Roro Anteng meminta Kyai Bimo untuk membuat lautan selama sehari semalam. Kiai Bimo segera membuat lautan dari batok kelapa. Hanya berbekalkan alat pemukul saja, lautan itu hampir jadi. Roro Anteng yang khawatir jika Kyai Bimo berhasil membuat lautan tersebut,   merencanakan hal lain.

Di malam hari, Roro Anteng menumbuk padi yang membuat ayam-ayam berkokok. Mendengar kokokan ayam, Kyai Bimo akhirnya merasa marah dan kesal akan kegagalannya. Akibat emosinya itu, tempurung yang digunakan untuk mengeruk pasir dilemparkan dan jadilah sebuah gunung bernama Gunung Batok. Kemudian  di sekitar wilayah tersebut terbentuklah lautan pasir.

Akhirnya Roro Anteng  melangsungkan pernikahan dengan pujaan hatinya, Joko Seger.

 

Upacara Kasada

 

Beberapa tahun setelah menikah, Joko Seger dan Roro Anteng tidak kunjung memiliki anak. Akhirnya mereka memutuskan bertapa di sebuah gunung. Pada suatu saat, mereka mendengar sebuah bisikan yang menyebutkan bahwa setelah mereka dikaruniai anak, anak tersebut harus dikorbankan pada kawah Gunung Bromo. Mereka pun menyanggupinya.

Namun setelah memiliki 25 anak, mereka ingkar pada janjinya. Ingkar janji tersebut memicu kemarahan dewa. Kawah Bromo meletus. Merekapun sadar dan menuruti titah tersebut. Anak bungsu mereka, Jaka Kesuma, akhirnya ikhlas menceburkan diri ke kawah Bromo demi keselamatan keluarganya.

Ia diantar ke kawah Gunung Bromo oleh banyak orang. Sebelum menceburkan diri, Jaka Kesuma berpesan agar masyarakat melarungkan hasil panen di setiap tanggal 14 di bulan Kasada, sesuai kalender Tengger.

Setelah itu,  setiap tahun masyarakat Tengger melaksanakan Upacara Kasada dengan membawa sesaji berupa hasil panen untuk dilarungkan tepat pada tengah malam tanggal 14 bulan Kasada. Selain melarungkan sesaji, masyarakat Tengger juga menyiapkan sesaji di 25 petilasan anak-anak Joko Seger dan Roro Anteng yang tersebar di area Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Wong Tengger percaya bahwa kesejahteraan dan karakter mereka merupakan turunan dari leluhurnya, yaitu Joko Seger dan Roro Anteng. Legenda ini diwariskan secara turun-temurun, sebagai bagian penting dari budaya dan kepercayaan masyarakat Tengger di sekitar Gunung Bromo. (n/dari berbagai sumber)

(dok:archipelagoindonesia)