Jangan Biarkan Media Sosial Menjadi Guru Utama Anak
Dahulu
Indonesia terkenal dengan nilai kesopanan masyarakatnya hingga ke mancanegara.
Namun saat ini, zaman sudah bergeser dan banyak remaja yang mulai terlihat
kurang menjaga tata kramanya baik terhadap orang tua, orang yang lebih tua
bahkan yang lebih muda.
Dalam beberapa tahun terakhir, kita sering
mendengar keluhan tentang perubahan sikap dan perilaku anak muda di Indonesia.
Media sosial dipenuhi dengan kontroversi, dari sikap kasar terhadap orang tua
hingga konten-konten yang tidak pantas.
Fenomena ini bukan sekadar keluhan generasi tua terhadap
yang muda. Faktanya, berbagai kasus nyata membuktikan adanya perubahan pola
pikir dan perilaku yang mengarah pada krisis etika. Salah satu yang paling
mencolok adalah bagaimana anak muda sekarang cenderung lebih bebas, tetapi
sering kali kebablasan dalam mengekspresikan diri.
Kurangnya kesadaran akan batasan moral dan sosial membuat
mereka bertindak tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang. Jika dibiarkan,
krisis etika ini bisa semakin memburuk dan menghambat pembangunan karakter
bangsa.
Dunia digital telah membuka peluang besar bagi anak muda
untuk berkarya, berjejaring, dan menyuarakan pendapat. Namun, tak sedikit yang terjebak
dalam sikap arogan dan abai terhadap norma sosial. Kata-kata kasar, budaya
flexing (memamerkan kekayaan), hingga sikap tak menghargai orang lain, semakin
marak di dunia maya. Mereka merasa bisa berkata apa saja tanpa konsekuensi.
Mengikis Rasa Hormat
Zaman dulu, hormat
kepada orang tua dan guru adalah nilai yang tak tergoyahkan. Namun kini banyak
anak muda yang menganggap bahwa mereka bisa memperlakukan orang tua dan guru
layaknya teman sebaya. Tidak ada salahnya bersikap akrab, tetapi seringkali
batasan etika dilanggar. Banyak video viral menunjukkan siswa melawan guru di
kelas atau berbicara kasar kepada orang tua.
Sikap seperti
ini bukan hanya mencerminkan kurangnya adab, tetapi juga menunjukkan betapa
norma-norma sosial yang telah diwariskan turun-temurun mulai tergerus. Sesungguhnya
rasa hormat bukan berarti takut, melainkan penghargaan atas pengalaman dan
kebijaksanaan orang yang lebih tua.
Krisis etika ini
tidak bisa dibiarkan begitu saja. Pendidikan formal dan informal harus
mengambil peran lebih aktif dalam membentuk karakter anak muda. Sekolah tidak
hanya berfokus pada akademik, tetapi juga harus menanamkan kembali nilai-nilai
moral dan etika. Program pendidikan karakter perlu diperkuat, dengan pendekatan
yang lebih menarik dan relevan dengan kehidupan anak muda saat ini.
Orang tua pun
harus berperan lebih aktif dalam mendidik anak-anaknya. Jangan biarkan media
sosial menjadi guru utama dalam kehidupan mereka. Komunikasi yang baik antara
orang tua dan anak akan membantu menanamkan nilai-nilai etika yang kuat. Orang
tua perlu menjadi contoh nyata dengan menunjukkan sikap yang baik dalam
kehidupan sehari-hari.
Selain itu,
pemerintah dan komunitas juga harus berperan dalam membangun kesadaran kolektif
mengenai pentingnya etika dalam kehidupan bermasyarakat. Kampanye publik
tentang etika digital, penggunaan media sosial yang bertanggung jawab, serta
penghargaan terhadap profesi apa pun harus terus digalakkan. Dengan demikian,
anak muda bisa memahami bahwa kebebasan bukan berarti bebas melakukan apa saja,
tanpa tanggung jawab.
Nilai
Kesopanan
Memudarnya
sikap menghargai orang lain yang secara tidak langsung bisa berdampak pada
hilangnya norma kesopanan, belum lagi bila kondisi diri sedang emosi. Kerap
kali kata-kata yang terucap menjadi kurang ramah dan terkesan angkuh.
Pada
dasarnya sikap sopan santun perlu dilakukan terhadap siapapun, dimanapun, dan
dalam kondisi apapun. Tidak hanya terhadap orangtua, anggota keluarga, terhadap
guru. Tidak hanya di rumah, di sekolah atau hanya dengan orang-orang yang
dikenal kita bersikap sopan santun, namun juga di lingkungan sosial.
Ketika
bermasyarakat dan berbaur di lingkungan sosial, kita perlu menyesuaikan diri
dan beradaptasi dengan nilai-nilai yang melekat di lingkungan tersebut. Dengan
mengikuti budaya timur, sudah sepatutnya kita menjaga nilai kesopanan dengan
aturan dan batasan yang sudah melekat dalam lingkungan sosial masyarakat
Indonesia.
Sesuatu hal
sederhana yang dapat dilakukan orangtua untuk membantu remaja memelihara nilai
kesopanan. Diantaranya memberi contoh secara langsung melalui perilaku.
Misalnya di saat kita memerlukan bantuan anak, ucapkanlah kata “tolong” dan
sudahi dengan mengucapkan “terima kasih.” Meskipun kepada anak yang usia dan
statusnya jauh di bawah kita.
Hal ini
akan membuat anak merasa dihargai sehingga ia akan belajar bagaimana caranya
menghargai orang lain. Bila kita ingin anak remaja bersikap sopan dan
menghargai pendapat orang lain, maka dengarkanlah ketika mereka memberikan
pendapatnya. Hargai secara positif argumen dan pendapat mereka, meskipun ada
hal yang masih belum tepat.
Berikan
Pemahaman
Anak akan
belajar bahwa apapun pendapat orang lain meskipun bertentangan dengan pandangannya,
sangat penting untuk tetap menghargai
dan bersikap sopan terhadap orang lain. Hal ini akan menjadi kesempatan bagi
anak remaja untuk dapat belajar secara langsung dalam menghargai pendapat
saudara, teman, serta orang lain yang mungkin akan ditemuinya di masa
mendatang.
Bila kita
ingin anak remaja kita berpakaian yang sopan, maka berilah contoh bagaimana
cara berpakaian sopan yang dimaksud. Berikan pemahaman bahwa bersikap sopan dan santun haruslah dilakukan
terhadap siapapun, tanpa memandang
apakah usianya lebih tua atau lebih muda. Statusnya lebih tinggi atau rendah. Serta dimanapun kita
berada dan dalam situasi apapun.
Berikanlah
kesempatan bagi anak untuk mempelajari nilai-nilai kesopanan yang bermanfaat
dalam membantu anak untuk bermasyarakat di lingkungan sosial. Mulailah dari
diri kita sendiri dengan memberi contoh konkrit yang baik, sebagai sarana
belajar bagi anak untuk bersikap sesuai dengan apa yang diharapkan.
