Jangan Biarkan Media Sosial Menjadi Guru Utama Anak

Thursday, April 2, 2026

Dahulu Indonesia terkenal dengan nilai kesopanan masyarakatnya hingga ke mancanegara. Namun saat ini, zaman sudah bergeser dan banyak remaja yang mulai terlihat kurang menjaga tata kramanya baik terhadap orang tua, orang yang lebih tua bahkan yang lebih muda.

Dalam beberapa tahun terakhir, kita sering mendengar keluhan tentang perubahan sikap dan perilaku anak muda di Indonesia. Media sosial dipenuhi dengan kontroversi, dari sikap kasar terhadap orang tua hingga konten-konten yang tidak pantas.

Fenomena ini bukan sekadar keluhan generasi tua terhadap yang muda. Faktanya, berbagai kasus nyata membuktikan adanya perubahan pola pikir dan perilaku yang mengarah pada krisis etika. Salah satu yang paling mencolok adalah bagaimana anak muda sekarang cenderung lebih bebas, tetapi sering kali kebablasan dalam mengekspresikan diri.

Kurangnya kesadaran akan batasan moral dan sosial membuat mereka bertindak tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang. Jika dibiarkan, krisis etika ini bisa semakin memburuk dan menghambat pembangunan karakter bangsa.

Dunia digital telah membuka peluang besar bagi anak muda untuk berkarya, berjejaring, dan menyuarakan pendapat. Namun, tak sedikit yang terjebak dalam sikap arogan dan abai terhadap norma sosial. Kata-kata kasar, budaya flexing (memamerkan kekayaan), hingga sikap tak menghargai orang lain, semakin marak di dunia maya. Mereka merasa bisa berkata apa saja tanpa konsekuensi.

 

Mengikis Rasa Hormat

 

Zaman dulu, hormat kepada orang tua dan guru adalah nilai yang tak tergoyahkan. Namun kini banyak anak muda yang menganggap bahwa mereka bisa memperlakukan orang tua dan guru layaknya teman sebaya. Tidak ada salahnya bersikap akrab, tetapi seringkali batasan etika dilanggar. Banyak video viral menunjukkan siswa melawan guru di kelas atau berbicara kasar kepada orang tua.

Sikap seperti ini bukan hanya mencerminkan kurangnya adab, tetapi juga menunjukkan betapa norma-norma sosial yang telah diwariskan turun-temurun mulai tergerus. Sesungguhnya rasa hormat bukan berarti takut, melainkan penghargaan atas pengalaman dan kebijaksanaan orang yang lebih tua.

Krisis etika ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Pendidikan formal dan informal harus mengambil peran lebih aktif dalam membentuk karakter anak muda. Sekolah tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga harus menanamkan kembali nilai-nilai moral dan etika. Program pendidikan karakter perlu diperkuat, dengan pendekatan yang lebih menarik dan relevan dengan kehidupan anak muda saat ini.

Orang tua pun harus berperan lebih aktif dalam mendidik anak-anaknya. Jangan biarkan media sosial menjadi guru utama dalam kehidupan mereka. Komunikasi yang baik antara orang tua dan anak akan membantu menanamkan nilai-nilai etika yang kuat. Orang tua perlu menjadi contoh nyata dengan menunjukkan sikap yang baik dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, pemerintah dan komunitas juga harus berperan dalam membangun kesadaran kolektif mengenai pentingnya etika dalam kehidupan bermasyarakat. Kampanye publik tentang etika digital, penggunaan media sosial yang bertanggung jawab, serta penghargaan terhadap profesi apa pun harus terus digalakkan. Dengan demikian, anak muda bisa memahami bahwa kebebasan bukan berarti bebas melakukan apa saja, tanpa tanggung jawab.

Nilai Kesopanan

Memudarnya sikap menghargai orang lain yang secara tidak langsung bisa berdampak pada hilangnya norma kesopanan, belum lagi bila kondisi diri sedang emosi. Kerap kali kata-kata yang terucap menjadi kurang ramah dan terkesan angkuh.

Pada dasarnya sikap sopan santun perlu dilakukan terhadap siapapun, dimanapun, dan dalam kondisi apapun. Tidak hanya terhadap orangtua, anggota keluarga, terhadap guru. Tidak hanya di rumah, di sekolah atau hanya dengan orang-orang yang dikenal kita bersikap sopan santun, namun juga di lingkungan sosial.

Ketika bermasyarakat dan berbaur di lingkungan sosial, kita perlu menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan nilai-nilai yang melekat di lingkungan tersebut. Dengan mengikuti budaya timur, sudah sepatutnya kita menjaga nilai kesopanan dengan aturan dan batasan yang sudah melekat dalam lingkungan sosial masyarakat Indonesia.

Sesuatu hal sederhana yang dapat dilakukan orangtua untuk membantu remaja memelihara nilai kesopanan. Diantaranya memberi contoh secara langsung melalui perilaku. Misalnya di saat kita memerlukan bantuan anak, ucapkanlah kata “tolong” dan sudahi dengan mengucapkan “terima kasih.” Meskipun kepada anak yang usia dan statusnya jauh di bawah kita.

Hal ini akan membuat anak merasa dihargai sehingga ia akan belajar bagaimana caranya menghargai orang lain. Bila kita ingin anak remaja bersikap sopan dan menghargai pendapat orang lain, maka dengarkanlah ketika mereka memberikan pendapatnya. Hargai secara positif argumen dan pendapat mereka, meskipun ada hal yang masih belum tepat.

Berikan Pemahaman

Anak akan belajar bahwa apapun pendapat orang lain meskipun bertentangan dengan pandangannya,  sangat penting untuk tetap menghargai dan bersikap sopan terhadap orang lain. Hal ini akan menjadi kesempatan bagi anak remaja untuk dapat belajar secara langsung dalam menghargai pendapat saudara, teman, serta orang lain yang mungkin akan ditemuinya di masa mendatang.

Bila kita ingin anak remaja kita berpakaian yang sopan, maka berilah contoh bagaimana cara berpakaian sopan yang dimaksud. Berikan pemahaman bahwa bersikap sopan dan santun haruslah dilakukan terhadap siapapun,  tanpa memandang apakah usianya lebih tua atau lebih muda. Statusnya  lebih tinggi atau rendah. Serta dimanapun kita berada dan dalam situasi apapun.

Berikanlah kesempatan bagi anak untuk mempelajari nilai-nilai kesopanan yang bermanfaat dalam membantu anak untuk bermasyarakat di lingkungan sosial. Mulailah dari diri kita sendiri dengan memberi contoh konkrit yang baik, sebagai sarana belajar bagi anak untuk bersikap sesuai dengan apa yang diharapkan.


(dok: antaranews)