APBN Indonesia Tangguh Hadapi Gejolak Global

Thursday, April 2, 2026

         Struktur APBN Indonesia dirancang cukup tangguh untuk merespons gejolak global.         Termasuk eskalasi geopolitik yang berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dan memicu tekanan di pasar keuangan. Hal tersebut disampaikan Wamenkeu, Juda Agung,  dalam Indonesia Economic Forum 2026 yang digelar di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, APBN didesain dengan tiga prinsip utama, yakni prudent, disiplin, dan fleksibel.  Kami  memastikan bahwa defisit di bawah 3 persen. Debt to GDP ratio sekitar 40 persen. Jauh lebih rendah dari di undang-undang 60 persen.

Aspek fleksibilitas, lanjutnya,  memberikan ruang bagi pemerintah untuk menggunakan cadangan fiskal dalam menghadapi gejolak global. Baik yang berdampak pada sisi belanja maupun penerimaan negara. .Fleksibel artinya termasuk jika terjadi shock yang bersumber dari global. Oleh karena itu ada buffer, cadangan fiskal yang dapat digunakan untuk memberikan bantalan terhadap gejolak-gejolak tersebut.
          Terkait kenaikan harga minyak dan potensi pelemahan rupiah, Wamenkeu mengatakan bahwa Kementerian Keuangan secara rutin melakukan stress test terhadap berbagai skenario global. Dalam nota keuangan, pemerintah juga mencantumkan analisis sensitivitas terhadap berbagai indikator makro. 
          Wamenkeu menambahkan  setiap kenaikan USD1 pada Indonesian Crude Price (ICP) berpotensi menambah defisit sekitar Rp6,8 triliun. Sementara itu, pelemahan Rp100 terhadap dolar AS berdampak sekitar Rp0,8 triliun terhadap deficit. Sedangkan kenaikan yield 0,1 persen berpotensi menambah beban sekitar Rp1,9 triliun. Meski demikian, hasil stress test pada skenario yang dinilai cukup plausible menunjukkan defisit tetap terjaga. 

Sisi Pembiayaan dan Investasi

     Dari sisi pembiayaan, Kementerian Keuangan juga terus melakukan diversifikasi sumber pendanaan guna memperkuat ketahanan fiskal. Jika sebelumnya pembiayaan global didominasi dolar AS, kini pemerintah memperluas basis investor dan mata uang. Kemenkeu baru saja menerbitkan global bonds sejumlah USD4,5 miliar equivalent,  dalam mata uang Euro dan Renminbi. Harganya masih sangat bagus, demikian juga yield-nya. Untuk Renminbi antara 2-3 persen dan untuk Euro itu 4-5 persen. Ukuran ini masih sangat bagus  untuk pasar global kita. 

Sementara di sisi investasi, pemerintah telah memasukkan proyeksi investasi asing dalam skenario pertumbuhan ekonomi. Peran investasi domestik ini juga diperkuat melalui entitas baru pemerintah, yakni Danantara. Menurutnya, Danantara memiliki peran penting. Kalau dulu investasi yang dilakukan oleh pemerintah masuk di APBN. Namun sekarang di Danantara. Danantara adalah part of macroeconomic management Indonesia.

Saat ini pemerintah lebih fokus  belanja APBN pada konsumsi pemerintah dan penguatan kesejahteraan masyarakat, khususnya kelompok menengah ke bawah. Sementara, pembiayaan investasi semakin banyak dilakukan melalui Danantara serta dukungan investasi luar negeri. Dengan berbagai instrumen tersebut, Wamenkeu optimistis keseimbangan antara penerimaan dan belanja negara tetap dapat dijaga di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian. (d)

 

(dok: RRI)